Sabtu, 17 Oktober 2015

MAKALAH PAI (KARAKTERISTIK ISLAM)



MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

KARAKTERISTIK ISLAM


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas

Pendidikan Agama Islam



Dosen Pengampu:

M. Sofanfan Rizqi, Alh , S.pd.I


Disusun Oleh:

1. Nur Azhari Wulandari 2015150102

2. Adi Sukron Ginanjar ( 2015150103)

3. Feni Yulianti 2015150104

4. Itmam Asyuby 2015150105




PROGAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA

UNIVERSITAS SAINS AL – QUR’AN

FAKULTAS FASTIKOM

2015/2016

DAFTAR ISI
Cover……………………………………………………………………………...1
Daftar Isi…………………………………………………………………………..2
Kata Pengantar…………………………………………………………………….3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang…………………………………………………………….4
            Rumusan Masalah…………………………………………………………4
            Tujuan……………………………………………………………………..5
            Manfaat……………………………………………………………………5
BAB II PEMBAHASAN
a.       Pengertian Agama…………………………………………………….6
                 Pengertian Religi………………………………………………………7
                 Pengertian Millah dan Al-Din……………………………………........8
b.      Pengertian Islam
Secara Etimologi……………………………………………………..9
Secara Terminologi…………………………………………………..9
Secara Syar’i…………………………………………………………10
c.       Karakteristik Agama Islam
Islam Agama Fitroh………………………………………………….11
Islam Agama Rasional…………………………………………….....11
Islam Agama Moderat……………………………………………......12
Islam Agama Tauhid…………………………………………………16
Islam Agama Mudah…………………………………………………19
Islam Agama yang sempurna………………………………………...22
KESIMPULAN…………………………………………………………………..27
PENUTUP………………………………………………………………………..28
DAFTAR PUSTAKA….………………………………………………………...29





KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Makna dan
kharakteristik agama islam”
           
Makalah ini berisikan tentang pengertian Islam baik secara etimologi, terminology maupun syar’i. selain itu juga membahas tentang karakteristik agama islam atau ciri khas agama islam. Serta  hadis ataupun dalil yang berkaitan dengan yang dibahas.

            Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang bagaimana kita, apakah sudah menjadi hamba yang taqwa. Dan lebih mengerti tentang agama islam. 

            Kami menyadari bahwa makalah kami ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan  saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.










Wonosobo, 15 Oktober 2015

                               
                               
Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN
1.1.               Latar belakang masalah
Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya untuk diajarkankan kepada manusia. Dibawa secara berantai (estafet) dari satu generasi ke generasi selanjutnya dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Islam adalah rahmat, hidayat, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi dari sifat rahman dan rahim Allah swt. M ayoritas manusia di bumi ini memeluk agama islam. Banyak juga yang memilih menjadi mualaf setelah mengetahui semua kebenaran ajaran nabi Muhammad SAW. Ini yang tercantum dalam al-Quran.
Namun di masa kejayaan islam pada masa sekarang,semakin banyak pula orang-orang yang beragama islam, tapi tidak mengerti arti islam itu sendiri. Mereka hanya menjalankan syari’ah atau ajaran-ajaran islam tanpa mengerti makna islam. Ada juga orang yang islam KTP atau islam hanya sebagai menyempurnakan KTP dari pada tak tercantum agamanya.
Oleh karena itu di makalah ini akan dibahas mengenai apa arti islam,baik secara etimologi,terminologi,dan secara syar’i. Serta Mengenal lebih dalam mengenai karakteristik agama islam.

1.2.Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas rumusan masalah makalh ini adalah:
-          Apakah arti islam serta karakteristiknya?
-          Bagaimana mengubah pandangan tentang islam dan menanamkan arti islam sebenarnya di diri masing-masing?





1.3.Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk:
-          Memberi pengetahuan kepada pembaca tentang arti Islam.
-          Mempertebal keimanan dan kecintaan pembaca atau penulis terhadap agama islam.
-          Mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari

1.4.Manfaat
Manfaat yang akan di dapat dari makalah ini adalah :
-          Pengetahuan tentang arti Agama,Religi,Millah dan Al-Din
-          Pengetahuan tentang arti islam secara etimologi,terminologi,syar’i
-          Mengetahui dsan memahami karakteristik agama Islam secara Fitrah, Mudah, Moderat, rasional, Tauhid,dan agama yang sempurna.
-          Mempertebal iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Agama
            Berdasarkan sudut pandang “agama” dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama di ambil dari dua akar suku kata, yaitu yang berarti “tidak” dan agama yang berati “kacau”. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau.
            Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini,tanpa terkecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. Agama juga bisa dilihat sebagai unsur dari kebudayaan suatu masyarakat disamping unsur-unsur yang lain,seperti kesenian,bahasa,sistem mata pencaharian,sistem peralatan,dan sistem origional sosial.
            Di lihat dari sudut kategori pemahaman manusia,agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, sebagai berikut:
1.      Segi kejiwaan yaitu suatu  kondisi jiwa manusia berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Kondisi inilah yang biasanya disebut kondisi agama, yaitu kondisi yang patuh dantaat kepada yang disembah.
2.       Seni objektif yaitu segi luar yang di sebut juga keajaiban objektif dimensi empiris dari agama.[1]


-          Pengertian Religi
            Religi berasal dari bahasa latin, menurut suatu pendapat mengatakan,bahwa asal kata religi adalah relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan roh manusia dengan tuhan dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan tuhan nya.
            Dari beberapa definisi tersebut,akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung istilah-istilah diatas ialah ikatan,agama memang mengandung arti ikatan yang harus di pegang dan di patuhi. Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, satu kekuatan ghoib yang tidak dapat di terima oleh panca indera.

-          Pengertian Millah
            Al-Millah terdapat dalam Al-Quran dan semuanya dalam bentuk tunggal. semua ini terdapat dalam surat-surat Al-baqarah:130 & 135, Abu Imran:95, Al-Nisa’:125, Al-An’am:161, Yusuf:38, Al-Nahl:123, dan Al-Haj:78. Dan sisanya beridhafah kepada dhamir,seperti dalam surat Al-A’raf:88&89 (MILLATINA&MILLATIKUM, kisah nabi Su’aib),Surat Ibrahim: 13(MILLATINA), Al-Baqarah 120(MILLATAKUM) dan surat Al-Kahfi:20 (MILLATIHIM).
            Makna Al-Millah menurut Abu al-Faraj al-Asfahani dalam karyanya al-Mufradat Fi Gharib a-Quran,Millah sama dengan din yaitu syariat Allah kepada hambanya melalui para nabi a.s agar dapat mendekatkan diri kepada tuhan.
            Millah adalah nama bagi sejumlah syariat,begitu juga pendapat Abu Hilal al-Askari seorang ahli linguistik bahasa arab.
            Menurut M.Quraish Shihab,kata millah terambil dari kata yang berarti mengimla’kan,yakni membacakan kepada orang lain agar di tulis olehnya. Ini karena agama/ilmiah dan tuntunan-tuntunan yang disampaikan Allah SWT bagaikan bagaikan sesuatu yang di imla’kan atau di tulis sehingga sama sepenuhnya,dengan apa yang disampaikan.
            Sedangkan ibn Manzur dalam lisan al-Arab memaknai millah adalah syariat dan agama(Din). Millah adalah agama seperti Islam,Kisten,Yahudi. Makna yang lain adalah sejumlah agama dan apa yang di bawa oleh para rosul.[2]


-          Pengertian Din
            Kata din berakar dari huruf ’d-y-n’ yang mempunyai makna meminjam atau berhutang.  Kata din adalah suku kata bahasa arab original(al-ashil).
Menurut Ibn Manzhur dalam kamus lisan al-‘Arab kata “din” secara etimologis digunakan dalam 4 makna:
1.      Din dalam makna hukum,kuasa,tunduk
(Al-hukum wa siyasat al-umur wa al-qahr wa al-faqbir wa al-muhasabah)
Contoh: Makna “dana” dalam hadist diatas adalah qahara natsahu menundukkan hawa nafsunya,oleh karena itu nabi Muhammad dipanggil oleh para pejungga arab: ya sayyid al-Nas wa Dayyan al-Arab
2.      Din dalam makna ketertundukan,taat,pengabdian,tunduk
(al-taskhir, wa al-itha’at wal abdiyah wa al-khudu’)
3.      Din dalam makna pembalasan,perhitungan,dan ganjaran
(al-jaza’ wa al-hisab wa al mukhafa’ah). Dalam kamus Taj al-Arus di kemukakan bahwa makna ‘din’ adalah al-jaza’(pembalasan atau ganjaran).
4.      Din dalam makna aqidah (al-i’tiqad) Din berdasarkan pandangan ini adalah jalan atau syariat yang dilaksanakan oleh seseorang.
Dari 4 makna tersebut bila dicocokkan dalam ayat-ayat Al-Quran, maka Al-Quran mempergunakan ke 4 makna tersebut dalam berbagai ayat di dalamnya sebagai makna terminologis. Makna (i) din adalah kekuasaan tertinggan dan hukum Allah (al-Sulthat al-ulya wa al-hukm lillah). Makna (ii) adalah ketertundukan dan taat pada kekuasaan Allah (at-tha’at wa al-idz’an lihakimiyaat Allah wa sulthanihi).
Kedua makna ini tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Contoh dalam Al-Quran adalah :
Artinya: (Mereka hanya disuruh menyembah Allah dengan meikhlaskan agama kepadanya secara lurus)[3]


B.     Pengertian Islam

-          Islam Secara Etimologi
Secara etimologi (Asal Usul) kata “Islam” berasal dari Bahasa Arab yaitu Salima yang berarti Selamat. Dari kata itu terbentuk Aslama yang artinya  menyerahkan diri atau tunduk dan  patuh. Sebagaimana firman Allah SWT : “Bahkan, barang siapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak  pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).
     Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya . Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati . Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim ) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius menurut Abdalati, Islam berarti “ Penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas Hukum-Nya”
Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius kata Islam adalah erat dan jelas. Yakni penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi. Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain, adalah sebagai berikut :
1.Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT dan siap mematuhi ajaran-Nya.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah).
4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang Aman, damai, sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.
-          Arti Terminologi
Secara terminologi (istilah) dapat dikatakan, Islam adalah Agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia,yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara terminologi. Kesimpulan bahwa agama Islam adalah: Wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa adalah[4] :
 
·  Suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan makhluk lainnya.
 
·  Bertujuan: Mendapatkan keridhaan Allah, Memberi rahmat bagi segenap alam,dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
 
·  Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak.
 
·  Bersumber Kitab Suci Al-Quran yang merupakan wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.
-          Islam Secara Syar’i
Islam secara Syar’i maksudnya makna Islam berdasarkan Hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalil-dalil tentang Islam sangat banyak sekali. di antaranya adalah sebagai berikut:
1). "Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam." (QS Ali Imran : 19)
2). "Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS Ali Imran : 85)
3). "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah : 3)
4). "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam." (QS Al-An'am : 125)
5)"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran : 102)

C.     Karakteristik Agama Islam

Istilah karakteristik dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti memiliki karakter atau cirri khas. Islam dapat diartikan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an. Jadi Karakteristik Agama Islam dapat diartikan sebagai cirri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama, muamalah(kemanusiaan), yang didalamnya termasuk ekonomi, social, politik, pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan disiplin ilmu yang baik dan benar.
-          Islam Agama Fitroh
            Fitrah dalam bahasa berarti kesucian. Jadi arti islam agama fitroh yaitu agama yang suci sebagaimana hati nurani manusia yang suci bersih. Setiap manusia memiliki hati nurani yang suci dan bersih, karena kesucianya tidak pernah keliru ataupun berbohong. Setiap manusia pada hakikatnya selalu mengatakan bahwa agama islam adalah agama yang suci dan benar. Islam melarang berbuat dosa, apalagi sampai ingkar kepada Allah SWT maka hati nurani pun juga sama. Islam menghendaki manusia untuk selalu bertaqwa dan beribadah maka hati nurani pun juga sama. Oleh karena itu, semua ajaran, perintah,anjuran serta laranganNya adalah sesuai dengan hati nurani manusia yang memang menghendaki demikian. Hal tersebut terdapat dalam sebuah hadis yang berbunyi:
Tidak ada seorang anak kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

-          Islam Agama Rasional
Rasional menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya “logis” atau “masuk akal”. Sedangkan bukti bahwa Islam itu rasional adalah pertama, Islam agama rasional adalah Islam memiliki pembenaran “rasional” atas aturan-aturannya bahkan aqidahnya. Yang kedua, Islam merupakan agama yang rasional karena dasar-dasarnya dibangun atas hukum – hukum yang dapat dibuktikan secara rasional. Aturan yang ada dalam Islam pasti mengandung manfaat. Dengan konsep ini, ramailah orang mencari-cari apa manfaat dari suatu perintah atau larangan Allah SWT. Secara sederhana, yang dimaksud pembenaran “rasional” adalah ada manfaatnya. Aturan yang ada dalam Islam pasti mengandung manfaat. Contohnya: akhir – akhir ini para ilmuwan meneliti terhadap kebenaran yang terdapat dalam isi yang terkandung dalam Al-Quran, dan itu memang terbukti kenenaranya.
Islam tidak melarang kita mencari tahu apa manfaat suatu aturan. Islam juga tidak melarang kita mencari hubungan antara suatu aturan dengan penyelesaian suatu permasalahan. Hubungan kedua hal ini disebut sebagai hikmah. Bila disikapi sebagai hikmah tentu menambah keimanan kita kepada Allah SWT. Hanya saja kedua hal itu bukan alasan adanya aturan itu. Bahkan kita tidak akan pernah tahu alasan Allah memerintahkan suatu hal kecuali Allah memberitahukan alasannya kepada kita. Jika tidak disikapi seperti di atas cara seperti ini  karena tidak semua hal bisa kita cari-cari manfaatnya. Lebih dari manfaat yang dikemukakan seringkali subjektif dan menebak. Misalnya pada masa iddah perempuan. Islam menetapkan masa iddah perempuan salah satunya adalah tiga bulan. hikmah tersebut juga bisa dirasakan dirasakan manfaatnya (hikmah).
-          Islam Agama Moderat
Islam Agama Moderat. Salah satu karakteristik Islam adalah sebagai agama yang moderat. Kata moderat bisa juga dibahasakan dengan tawazun (seimbang), karena moderat berarti mengambil posisi tengah di antara dua hal atau sikap yang saling berlawanan. Manusia tidak akan bisa membuat sebuah sistem kehidupan yang moderat, seimbang, dan tidak ekstrem. Hal itu disebabkan:
 Akal dan ilmu manusia sangat kurang, terbatas, tidak bisa melingkupi seluruh dimensi kehidupan manusia. Maka sistem produk manusia pasti akan tidak seimbang.Lebih memberikan perhatian pada satu bagian dengan mengorbankan bagian yang lain.
Manusia juga mempunyai kecenderungan, tendensi, dan keterpengaruhan dengan hal-hal yang dialami dalam hidupnya. Maka manusia pasti akan bersifat ekstrem karena merupakan reaksi dari fenomena yang ditemui dan dirasakannya.
Dari kenyataan di atas, dapat diyakini bahwa sistem kehidupan manusia hanya dapat dibuat oleh Allah swt. Karena Allah swt yang mengetahui manusia dan seluruh yang berkaitan dengannya.
 “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”[Al-Mulk: 14].

Moderat Berarti Adil
Allah swt. berfirman:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasathan (tengah-tengah) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”[Al-Baqarah: 143].
Islam adalah agama moderat karena merupakan agama terakhir dan penutup seluruh agama. Agama-agama sebelumnya boleh berajaran ekstrem, misalnya memerangi materialisme dengan spiritualisme, memerangi realisme dengan idealisme. Karena agama-agama itu sangat terbatas dalam ruang dan waktunya, tidak untuk semua orang dan sepanjang waktu.
Agar bisa diterima semua orang, agama harus bersikap adil kepada semua. Agar bisa bersikap adil, agama harus bersikap moderat, tengah-tengah, tidak ekstrem, dan tidak cenderung mendekat pada satu kelompok dan menjauh dari kelompok yang lain. Kalau bersikap ekstrem, tentu hanya akan diterima sebagian kecil orang saja. Kebanyakan orang akan menolaknya. Abus Su’ud mengatakan, bersikap adil dan moderat itu bagaikan posisi pusat dalam sebuah lingkaran. Posisi itu mempunyai jarak yang sama dengan masing-masing titik di garis lingkarannya. Kemudian hal itu dipakai untuk semua sikap manusia yang terpuji.

Moderat Berarti Istiqamah

Moderat juga bermakna istiqamah, tidak melenceng dan bengkok. Dalam Al-Qur’an, hal itu diistilahkan dengan ash-Shiratul mustaqim (jalan yang lurus). Para ulama mengatakan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang selalu menjaga jarak dari terlalu minggir ke salah satu sisi. Jalan lurus bisa dikatakan sebagai jalan yang berada di tengah-tengah.
Dengan sikap moderatnya, maka Islam adalah agama tengah-tengah di antara ke-ekstreman agama-agama yang lain. Setiap muslim diwajibkan untuk menjaga hal tersebut, hal itu dapat dipahami dengan perintah untuk berdoa “tunjukanlah kami ke jalan yang lurus” dalam shalat mereka.

Moderat Berarti yang Terbaik

Ada pribahasa Arab menyebutkan “Kairul umuri Ausathuha” (hal yang terbaik adalah yang paling tengah-tengah). Aristoteles menyebutkan, “Kebaikan adalah sikap tengah antara dua buah keburukan.” Oleh karena itu, Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa “ummatan wasatha” maknanya adalah “khaira ummatin” umat terbaik.

Moderat Berarti Aman

Berada di tengah adalah sikap yang aman. Sangat berbeda dengan berada di pinggir dan ujung. Sikap sedang-sedang dan tidak terlalu merupakan pilihan yang aman. Misalnya dalam berpakaian, sebaiknya memilih pakaian yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Karena kalau terlalu tebal, dan ternyata hari sangat panas maka akan merasa kepanasan. Sedangkan kalau terlalu tipis, dan ternyata hari sangat dingin maka akan merasa kedinginan. Pilihan yang aman adalah pakaian yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Hal yang sama dalam memilih agama dan sistem kehidupan.

Moderat Berarti Kuat

Posisi tengah adalah pusat kekuatan. Dalam perjalanan umur, masa yang paling kuat adalah masa pertengahan. Terlalu muda adalah masa yang masih lemah, sedangkan terlalu tua adalah masa yang sudah lemah dan kehilangan kekuatan. Matahari terasa paling panas adalah ketika di tengah hari, bukan di awal hari dan bukan juga di sore hari.

Moderat Berarti Persatuan

Moderat adalah pusat persatuan dan titik pertemuan. Pinggir, pojok dan ujung berjumlah sangat banyak dan sangat sulit bertemu dengan yang lain. Sedangkan tengah hanya berjumlah satu, bahkan semua unsur pinggir, pojok dan ujung bisa bertemu di tengah. Hal ini tidak hanya mungkin terjadi pada sebuah lingkaran, tapi bisa juga berlaku untuk pemikiran, sikap, dan sebagainya.

Sisi-sisi Kemoderatan Islam

Sisi kemoderatan Islam meliputi semua bagian dalam Islam diantaranya : akidah, ibadah, akhlak, dan hukum.
Akidah Moderat
Akidah Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti akidah khurafat yang meyakini semua hal walaupun tidak berdalil, tidak pula seperti akidah kaum materialis yang hanya meyakini apa yang mereka lihat dan rasakan, tidak seperti kaum atheis yang sama sekali tidak mengakui adanya tuhan, tidak pula seperti  kaum musyrikin yang menjadikan banyak hal sebagai tuhan, bahkan sapi, kera, dan sebagainya. Islam mengajarkan iman kepada Allah swt Yang Maha Esa.
Tidak seperti qadariah yang mengatakan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, tidak pula seperti jabariyah yang mengatakan bahwa manusia tak lain bagaikan bulu yang diombang-ambingkan angin kesana-kemari. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk mulia, yang diberi kewajiban dan tanggung jawab.
Tidak seperti orang Yahudi yang mencela para nabi, tidak pula seperti Nasrani yang menuhankan mereka. Islam mengajarkan bahwa para nabi adalah manusia biasa yang dipilih  Allah SWT untuk membawa risalah-Nya. Islam mengajarkan akidah, tapi harus berdasarkan dalil yang kuat dan yakin.

Ibadah Moderat

Ibadah Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti Budha yang hanya mengajarkan akhlak dan tidak mengajarkan ibadah. Islam mengajarkan ibadah yang diatur sedemikian rupa. Ibadah dianggap tidak diterima jika mengurangi atau melebihi aturan ini.
Misal yang bisa membuktikan hal ini adalah ibadah shalat Jumat. Allah swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”[Jumah: 9-10].

Akhlak Rabbaniyah

Akhlak Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti kaum idealis yang mengajarkan manusia akhlak sempurna seperti para malaikat, tidak pula seperti kaum realistis yang mengatakan bahwa manusia tak jauh berbeda dengan binatang. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, syahwat hewani, hidayah, fitrah untuk beriman.
Akhlak Islam tidak mengajarkan bahwa esensi manusia adalah ruh, namun sekarang ruh tersebut terpenjara dalam sebuah jasad. Islam juga tidak mengajarkan bahwa manusia hanyalah sebuah jasad tanpa ruh, kebahagiaannya adalah dengan memberikan kepuasan jasad belaka. Islam mengajarkan bahwa manusia terdiri dari jasad dan ruh, masing-masing mempunyai hak yang harus ditunaikan.
-          Islam Agama Tauhid
Dari segi bahasa ‘mentauhidkan sesuatu’ berarti ‘menjadikan sesuatu itu esa’. Dari segi syar’i tauhid ialah mengesakan Allah SWT. Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.
Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:
الْØ­َÙ…ْدُ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ الَّذِÙŠ Ø®َÙ„َÙ‚َ السَّÙ…َاوَاتِ ÙˆَالْØ£َرْضَ ÙˆَجَعَÙ„َ الظُّÙ„ُÙ…َاتِ Ùˆَالنُّورَ
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)
Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:

ÙˆَÙ„َئِÙ†ْ سَØ£َÙ„ْتَÙ‡ُÙ…ْ Ù…َÙ†ْ Ø®َÙ„َÙ‚َÙ‡ُÙ…ْ Ù„َÙŠَÙ‚ُولُÙ†َّ اللَّÙ‡ُ
Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Az Zukhruf: 87)
 Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (QS. Al Ankabut 61)
Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.
Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)
Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.
Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17). Dalilnya:
 Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)
Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:
 Sungguh telah kami utus Rasul untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘” (QS. An Nahl: 36)
Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).
Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??
Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
 Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (QS. Al A’raf: 180)
Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.
Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.
Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.
Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.
Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:
 Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura: 11)
Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.

Pentingnya mempelajari tauhid
Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4)
-          Islam Agama Mudah
            Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah SWT menghendaki demikian kepada umat dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Seperti dalam firman Allah SWT berikut ini:
Allah menurunkan Al-Qur-an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah :

“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
            Sebagai contoh tentang kemudahan islam:
~ menurut ilmu syar’I, belajar Al-Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman salaf adalah mudah
~ mentauhidkan Allah dan beribadah kepandaNya adalah mudah
~ Melaksanakan sunnah-sunnah nabi Muhammad SAW adalah mudah. Seperti contoh memekai jenggot, memakai pakaian diatas kaki.
~ Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang yang khusuk dalam sholat paling lama 10 menit.
~ orang sakit wajib Sholat, jika tidak daya dalam berdiri, bias melakukan berbaring ataupun duduk. Ini merupakan kemudahan dalam ibadah.
~jika tidak ada air, dalam berwudhu boleh dengan cara tayamum.
~ Haji hanya wajib sekali seumur hidup. Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh al-Aqra’ bin Habis tentang berapa kali haji harus ditunaikan, apakah harus setiap tahun ataukah hanya cukup sekali seumur hidup? Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

“Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah.”
[5]
~ Memakai jilbab mudah dan tidak berat bagi muslimah sesuai dengan syari’at Islam. Untuk masalah jilbab silahkan lihat kitab Jilbab Mar'ah Muslimah oleh Syaikh Imam Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah.
Allah SWT menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:



“...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185]

“...Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]

“... Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama ...” [Al-Hajj: 78] 

Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah
menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”
[6]

Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena:

1. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pema-haman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.

2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.

3. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.

4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.
-          Islam Agama yang sempurna
Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat, diridhai dan sesuai dengan fitrah. Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya dan penganutnya tenang, selamat dan bahagia dalam menjalani hidup. Muslim menjadi selamat karena Islam diciptakan sebagai diin yang sempurna. Ketenangan yang dirasakan seorang muslim karena Allah memberikan segenap rasa nikmat kepada penganut Islam, kemudian kepada mereka yang mengamalkan Islam karena sesuai dengan fitrahnya. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum 30:30)

Keluasan Islam

            Islam merupakan agama yang sempurna berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Sebagai petunjuk/ pegangan dalam hidupnya, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik, teratur dan sejahtera, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Syumul (universalitas) merupakan salah satu karakter Islam yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan syariah dan tatanan buatan manusia, baik komunisme, kapitalisme, demokrasi maupun yang lainnya. Universalitas Islam meliputi waktu, tempat dan seluruh bidang kehidupan.“Risalah Islam mempunyai jangkauan yang sangat lebar sehingga berlaku bagi seluruh umat, dan jangkauan yang sangat dalam sehingga mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat.”[7]

            Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zaman (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat).
1. Islam sebagai syumuliyatuz zaman (sepanjang masa) adalah agama masa lalu, hari ini dan sampai akhir zaman nanti. Sebagaimana Islam merupakan agama yang pernah Allah sampaikan kepada para Nabi terdahulu, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: “Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.”(QS. An Nahl 16: 36). Kemudian disempurnakan oleh Allah melalui risalah nabi Muhammad SAW sebagai kesatuan risalah dan nabi penutup. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW dilaksanakan sepanjang masa untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ 34: 28)

2. Islam sebagai syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek lengkap yang terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah (sebagai penyokong/ penguat Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai asas Islam). Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran 3: 19)

3. Islam sebagai syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini sebagai satu kesatuan. Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan kepada-Nya. Firman Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dan pencipta alam semesta: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah 2: 163-164)

Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Aqidah

            Aqidah Islam adalah aqidah yang lengkap dari sudut manapun. Islam mampu menjelaskan persoalan-persoalan besar kehidupan ini. Aqidah Islam mampu dengan jelas menerangkan tentang Tuhan, manusia, alam raya, kenabian, dan bahkan perjalanan akhir manusia itu sendiri.

Islam tidak hanya ditetapkan berdasarkan instink/ perasaan atau logika semata, tetapi aqidah Islam diyakini berdasarkan wahyu yang dibenarkan oleh perasaan dan logika. Iman yang baik adalah iman yang muncul dari akal yang bersinar dan hati yang bercahaya. Dengan demikian, aqidah Islam akan mengakar kuat dan menghujam dalam diri seorang muslim. Meyakini secara benar bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan meyakini dalam hati, mengucapkan secara lisan dan dibuktikan dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.

Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Ibadah

            Ibadah dalam Islam menjangkau keseluruhan wujud manusia secara penuh. Seorang muslim beribadah kepada Allah dengan lisan, fisik, hati, akal, dan bahkan kekayaannya. Lisannya mampu bedzikir, berdoa dll. Fisiknya mengiringi dengan berdiri, ruku’ dan sujud, puasa dll. membantu mereka yang membutuhkan. Hatinya beribadah dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’), cinta (mahabbah) dan bertawakal kepada Allah. Ikut berbahagia atas kebahagiaan sesama, dan berbela sungkawa atas musibah sesama. Akalnya beribadah dengan berfikir dan merenungkan kebesaran dan ciptaan Allah. Hartanya diinfakkan untuk pembelanjaan yang dicintai dan diperintahkan Allah serta membawa kemaslahatan bersama.

Maha Suci Allah yang telah mengatur segala sesuatunya dengan baik dan menenteramkan. Seluruh aktivitas seorang muslim akan bernilai ibadah di mata Allah, apabila dijalankan dengan ikhlas dan diniatkan hanya untuk mengharap ridha-Nya. Sehingga kita patut mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (ibadah), karena mereka yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan limpahan pahala dan sesuatu yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat (jannah).

Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Akhlaq

            Akhlaq Islam memberikan sentuhan kepada seluruh sendi kehidupan manusia dengan optimal. Akhlaq Islam menjangkau ruhiyah, fisik, agama, duniawi, logika, perasaan, keberadaannya sebagai wujud individu, atau wujudnya sebagai elemen komunal (masyarakat). Akhlaq Islam meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi, seperti kewajiban memenuhi kebutuhan fisik dengan makan dan minum yang halalan thoyiban serta menjaga kesehatan, seruan agar manusia mempergunakan akalnya untuk berfikir akan keberadaan dan kekuasaan Allah, seruan agar manusia membersihkan jiwanya,“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams 91: 9-10).

            Hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, seperti hubungan suami istri dengan baik, hubungan anak dan orang tua, hubungan dengan kerabat dan sanak saudara. Semuanya diajarkan dalam Islam untuk saling berkasih sayang dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, seperti seruan untuk memuliakan tamu dan etika bertamu, mengajarkan bahwa tetangga merupakan keluarga dekat, hubungan muamalah yang baik dengan saling menghormati, seruan untuk berjual beli dengan adil, dsb. Menjadikan umat manusia dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.

            Kesempurnaan Islam juga mengatur pada akhlaq Islam yang berkaitan dengan menyayangi binatang, tidak menyakiti dan membunuhnya tanpa alasan. Akhlaq Islam yang berkaitan dengan alam raya, sebagai obyek berfikir, merenung dan belajar,“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: 190), sebagai sarana berkarya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

            Lebih dari itu semua adalah akhlaq muslim kepada Allah SWT, Pencipta, dan Pemberi nikmat, dengan bertahmid, bersyukur, berharap (raja’), dan takut (khauf) terpinggirkan apalagi dijatuhi hukuman, baik di dunia maupun di akhirat.

Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Hukum/ Syariah

Syariah Islam tidak hanya mengurus individu tanpa memperhatikan masyarakatnya, atau masyarakat tanpa memperhatikan individunya. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ada aturan ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Ada halal dan haram (bahaya-berguna) yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri. Ada hukum keluarga, nikah, thalaq, nafkah, persusuan, warisan, perwalian, dsb. Ada aturan bermasyarakat, seperti: jual beli, hutang-piutang, pengalihan hak, kafalah, dsb. Ada aturan tentang tindak kejahatan, minuman keras, zina, pembunuhan, dsb.

Dalam urusan negara ada aturan hubungan negara terhadap rakyatnya, loyalitas ulil amri (pemerintah) yang adil dan bijaksana, bughot (pemberontakan), hubungan antar negara, pernyataan damai atau perang, dsb. Untuk mewujudkan negara yang adil dan sejahtera sesuai dengan tatanan hidup Islam, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam kehidupan bernegara.

Kelengkapan Ajaran Islam Dalam Seluruh Aspek Kehidupan

            Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang digambarkan dalam Al Qur’an adalah mencakup konsep keyakinan (aqidah), moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, hukum/ perundang-undangan (syariah).

            Kesempurnaan Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan merupakan satu-satunya diin yang diridhai Allah SWT menjadikannya satu-satunya agama yang benar dan tak terkalahkan. “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At Taubah 9: 33). Beruntunglah bagi setiap manusia yang diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk dapat merasakan nikmat berislam dan menjauhkannya dari kesesatan hidup jahiliyah. Rawat dan jagalah nikmat iman dan Islam dengan tarbiyah Islamiyah serta menerapkan Islam secara kaffah, sehingga terwujud kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
            Islam sendiri memiliki syariat / peraturan hukum yang sangat sempurna karena memiliki beberapa keunikan, diantaranya: Pertama, bersifat manusiawi yang menunjukkan relevansi hukum Islam dengan watak manusia serta kebutuhan dan keinginan manusia. Kemudian menghargai hak hidup manusia, memenuhi kebutuhan rohani dan mengembangkan akal pikir manusia. Selain itu, juga menjunjung tinggi prinsip kehidupan manusia seperti keadilan, toleransi, permusyawaratan, saling mengasihi,saling memaafkan, persatuan, perdamaian dan sebagainya. Kedua, bercirikan moral yang menunjukkan bahwa hukum Islam berpijak pada kode etik tertentu mengingat Nabi Muhammad diturunkan bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia dengan tetap berpijak pada kode etik dalam Alqur’an. Hal ini berarti Islam menjaga kehormatan dan martabat manusia, saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta mendudukkan sesuatu sesuai kedudukannya. Ketiga, bercirikan universal dalam artian seluruh aturan ada dan mengikat untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Tidak seperti agama lain yang diturunkan untuk umat agamanya saja, segenap peraturan yang ada dalam Islam tidak hanya untuk umat Islam saja.

            Islam dan syariahnya membuka diri dan dapat berdialog dengan siapapun dan kapanpun karena Islam menjelaskan seluruh permasalahan umat. Selain itu, syariah Islam juga memliki karakteristik tersendiri diantaranya: Pertama, sempurna mengingat Islam sebagai agama terakhir telah disempurnakan oleh Alloh sehingga mencakup berbagai dimensi kehidupan baik akidah, politik kemasyarakatan, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, sosial kemasyarakatan, ekonomi dan sebagainya. Kedua, berwatak harmonis dan seimbang yakni keseimbangan yang tidak goyah, selaras dan serasi sehingga membentuk ciri khas yang unik. Karenanya ada hukum wajib sebagai bandingan haram, sunah dengan makruh dan ditengahi oleh hukum mubah. Hal lainnya adalah menempatkan kewajiban seiring dengan penuntutan hak, menggunakan harta benda tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dan sebagainya. Ketiga, dinamis yang menunjukkan bahwa syariah Islam bisa berkembang menurut kondisi pada masa itu.













KESIMPULAN
1.      Islam merupakan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang digunakan sebagaI pedoman hidup makhluk hidup.
2.      Islam menurut etimologi adalah “Islam” berasal dari Bahasa Arab yaitu Salima yang berarti Selamat. Dari kata itu terbentuk Aslama yang artinya  menyerahkan diri atau tunduk dan  patuh.
3.      Islam menurut terminologi adalah Agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia,yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
4.      Islam syar’i adalah makna Islam berdasarkan Hadis Nabi Muhammad SAW.
5.      Karakteristik Islam terdiri dari :
~ Islam Agama Fitroh
~ Islam Agama Mudah
~ Islam Agama Moderat
~ Islam Agama Rasional
~ Islam Agama Tauhid
~ Islam Agama yang sempurna






PENUTUP

                Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan makalah.

            Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan berikutnya.
            Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya. Aamiin.















DAFTAR PUSTAKA
Dari internet:
Dari buku:
‘abduh, Syekh Muhammad. Risalah tauhid.jakarta:Bulan bintang.
Syaifulloh,M,dkk.Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi.Surabaya:Grasindo.
Prof.Dr. H. Abuddin Nata,M.A. 2004. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Rajawali Pers

Prof. Dr. Muhaimin,M.A dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan studi Islam. Jakarta: Prenada Media

Tuty, P (2008). UI sistem online. Indonesia University .





















[5] HR. Abu Dawud (no. 1721), al-Hakim (II/293), an-Nasa-i (V/111), dan Ibnu Majah (no. 2886), lafazh ini milik Abu Dawud.

[6] HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[7] Ulama besar Mesir asy syahid Hasan Al Banna