MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Pendidikan Agama Islam
Dosen Pengampu:
M. Sofanfan Rizqi, Alh , S.pd.I
Disusun Oleh:
1. Nur Azhari Wulandari 2015150102
2. Adi Sukron Ginanjar ( 2015150103)
3. Feni Yulianti 2015150104
4. Itmam Asyuby 2015150105
PROGAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS SAINS AL – QUR’AN
FAKULTAS FASTIKOM
DAFTAR ISI
Cover……………………………………………………………………………...1
Daftar Isi…………………………………………………………………………..2
Kata Pengantar…………………………………………………………………….3
BAB I PENDAHULUAN
Latar
Belakang…………………………………………………………….4
Rumusan
Masalah…………………………………………………………4
Tujuan……………………………………………………………………..5
Manfaat……………………………………………………………………5
BAB II PEMBAHASAN
a.
Pengertian Agama…………………………………………………….6
Pengertian Religi………………………………………………………7
Pengertian Millah dan Al-Din……………………………………........8
b.
Pengertian Islam
Secara Etimologi……………………………………………………..9
Secara Terminologi…………………………………………………..9
Secara Syar’i…………………………………………………………10
c.
Karakteristik Agama Islam
Islam Agama Fitroh………………………………………………….11
Islam Agama Rasional…………………………………………….....11
Islam Agama Moderat……………………………………………......12
Islam Agama Tauhid…………………………………………………16
Islam Agama Mudah…………………………………………………19
Islam Agama yang sempurna………………………………………...22
KESIMPULAN…………………………………………………………………..27
PENUTUP………………………………………………………………………..28
DAFTAR PUSTAKA….………………………………………………………...29
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Makna dan kharakteristik agama islam”
Makalah ini berisikan tentang
pengertian Islam baik secara etimologi, terminology maupun syar’i. selain itu
juga membahas tentang karakteristik agama islam atau ciri khas agama islam.
Serta hadis ataupun dalil yang berkaitan
dengan yang dibahas.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang bagaimana kita, apakah sudah menjadi hamba yang taqwa. Dan lebih mengerti tentang agama islam.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang bagaimana kita, apakah sudah menjadi hamba yang taqwa. Dan lebih mengerti tentang agama islam.
Kami menyadari bahwa makalah kami ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Wonosobo,
15 Oktober 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
belakang masalah
Islam adalah
agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya untuk diajarkankan kepada
manusia. Dibawa secara berantai (estafet) dari satu generasi ke generasi
selanjutnya dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Islam adalah rahmat,
hidayat, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi dari sifat rahman
dan rahim Allah swt. M ayoritas manusia di bumi ini memeluk agama islam. Banyak juga yang memilih menjadi mualaf
setelah mengetahui semua kebenaran ajaran nabi Muhammad SAW. Ini yang tercantum dalam
al-Quran.
Namun di masa kejayaan islam pada masa
sekarang,semakin banyak pula orang-orang yang beragama islam, tapi tidak mengerti arti islam itu sendiri. Mereka
hanya menjalankan syari’ah atau ajaran-ajaran islam tanpa mengerti makna islam.
Ada juga orang yang islam KTP atau islam hanya sebagai menyempurnakan KTP dari
pada tak tercantum agamanya.
Oleh karena itu di makalah ini akan dibahas mengenai
apa arti islam,baik secara etimologi,terminologi,dan secara syar’i. Serta Mengenal lebih dalam
mengenai karakteristik agama islam.
1.2.Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas rumusan masalah makalh ini
adalah:
-
Apakah arti islam serta karakteristiknya?
-
Bagaimana mengubah pandangan tentang islam dan
menanamkan arti islam sebenarnya di diri masing-masing?
1.3.Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk:
-
Memberi
pengetahuan kepada pembaca tentang arti Islam.
-
Mempertebal
keimanan dan kecintaan pembaca atau penulis terhadap agama islam.
-
Mengaplikasikan
pada kehidupan sehari-hari
1.4.Manfaat
Manfaat yang akan di dapat dari makalah ini adalah :
-
Pengetahuan
tentang arti Agama,Religi,Millah dan Al-Din
-
Pengetahuan
tentang arti islam secara etimologi,terminologi,syar’i
-
Mengetahui
dsan memahami karakteristik agama Islam secara Fitrah, Mudah, Moderat,
rasional, Tauhid,dan agama yang sempurna.
-
Mempertebal
iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama
Berdasarkan sudut pandang “agama” dianggap sebagai kata
yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama di ambil
dari dua akar suku kata, yaitu yang berarti “tidak” dan agama yang berati
“kacau”. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang
mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau.
Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala
sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia
ini,tanpa terkecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan
bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. Agama juga bisa dilihat sebagai
unsur dari kebudayaan suatu masyarakat disamping unsur-unsur yang lain,seperti
kesenian,bahasa,sistem mata pencaharian,sistem peralatan,dan sistem origional
sosial.
Di lihat dari sudut kategori pemahaman manusia,agama
memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, sebagai berikut:
1. Segi
kejiwaan yaitu suatu kondisi jiwa manusia
berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Kondisi inilah yang
biasanya disebut kondisi agama, yaitu kondisi yang patuh dantaat kepada yang
disembah.
2. Seni objektif yaitu segi luar yang di sebut
juga keajaiban objektif dimensi empiris dari agama.[1]
-
Pengertian
Religi
Religi berasal dari bahasa latin, menurut suatu pendapat
mengatakan,bahwa asal kata religi adalah relegere yang mengandung arti
mengumpulkan dan membaca. Dalam agama selanjutnya terdapat pula ikatan roh
manusia dengan tuhan dan agama lebih lanjut lagi memang mengikat manusia dengan
tuhan nya.
Dari beberapa definisi tersebut,akhirnya Harun Nasution
menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung istilah-istilah diatas ialah
ikatan,agama memang mengandung arti ikatan yang harus di pegang dan di patuhi.
Ikatan ini mempunyai pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia
sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari
manusia, satu kekuatan ghoib yang tidak dapat di terima oleh panca indera.
-
Pengertian
Millah
Al-Millah terdapat dalam Al-Quran dan semuanya dalam
bentuk tunggal. semua
ini terdapat dalam surat-surat Al-baqarah:130 & 135, Abu Imran:95,
Al-Nisa’:125, Al-An’am:161, Yusuf:38, Al-Nahl:123, dan Al-Haj:78. Dan sisanya
beridhafah kepada dhamir,seperti dalam surat Al-A’raf:88&89
(MILLATINA&MILLATIKUM, kisah nabi Su’aib),Surat Ibrahim: 13(MILLATINA),
Al-Baqarah 120(MILLATAKUM) dan surat Al-Kahfi:20 (MILLATIHIM).
Makna Al-Millah menurut Abu al-Faraj al-Asfahani dalam
karyanya al-Mufradat Fi Gharib a-Quran,Millah sama dengan din yaitu
syariat Allah kepada hambanya melalui para nabi a.s agar dapat mendekatkan diri
kepada tuhan.
Millah adalah nama bagi sejumlah syariat,begitu juga
pendapat Abu Hilal al-Askari seorang ahli linguistik bahasa arab.
Menurut M.Quraish Shihab,kata millah terambil dari kata
yang berarti mengimla’kan,yakni membacakan kepada orang lain agar di tulis
olehnya. Ini karena agama/ilmiah dan tuntunan-tuntunan yang disampaikan Allah
SWT bagaikan bagaikan sesuatu yang di imla’kan atau di tulis sehingga sama
sepenuhnya,dengan apa yang disampaikan.
Sedangkan ibn Manzur dalam lisan al-Arab memaknai
millah adalah syariat dan agama(Din). Millah adalah agama
seperti Islam,Kisten,Yahudi. Makna yang lain adalah sejumlah agama dan apa yang
di bawa oleh para rosul.[2]
-
Pengertian Din
Kata din berakar dari huruf ’d-y-n’ yang mempunyai makna
meminjam atau berhutang. Kata din adalah
suku kata bahasa arab original(al-ashil).
Menurut Ibn Manzhur
dalam kamus lisan al-‘Arab kata “din” secara etimologis digunakan dalam
4 makna:
1.
Din dalam makna hukum,kuasa,tunduk
(Al-hukum
wa siyasat al-umur wa al-qahr wa al-faqbir wa al-muhasabah)
Contoh:
Makna “dana” dalam hadist diatas adalah qahara natsahu menundukkan hawa
nafsunya,oleh karena itu nabi Muhammad dipanggil oleh para pejungga arab: ya
sayyid al-Nas wa Dayyan al-Arab
2.
Din dalam makna
ketertundukan,taat,pengabdian,tunduk
(al-taskhir,
wa al-itha’at wal abdiyah wa al-khudu’)
3.
Din dalam makna
pembalasan,perhitungan,dan ganjaran
(al-jaza’
wa al-hisab wa al mukhafa’ah). Dalam kamus Taj al-Arus di kemukakan
bahwa makna ‘din’ adalah al-jaza’(pembalasan atau ganjaran).
4.
Din dalam makna aqidah (al-i’tiqad) Din berdasarkan pandangan ini
adalah jalan atau syariat yang dilaksanakan oleh seseorang.
Dari
4 makna tersebut bila dicocokkan dalam ayat-ayat Al-Quran, maka Al-Quran
mempergunakan ke 4 makna tersebut dalam berbagai ayat di dalamnya sebagai makna
terminologis. Makna
(i) din adalah kekuasaan tertinggan dan hukum Allah (al-Sulthat al-ulya wa
al-hukm lillah). Makna
(ii) adalah ketertundukan dan taat pada kekuasaan Allah (at-tha’at wa al-idz’an
lihakimiyaat Allah wa sulthanihi).
Kedua
makna ini tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Contoh
dalam Al-Quran adalah :
Artinya: (Mereka hanya disuruh
menyembah Allah dengan meikhlaskan agama kepadanya secara lurus)[3]
B.
Pengertian Islam
-
Islam Secara Etimologi
Secara
etimologi (Asal Usul)
kata “Islam” berasal dari Bahasa Arab yaitu “Salima” yang berarti Selamat. Dari kata
itu terbentuk Aslama yang artinya
menyerahkan diri atau tunduk dan
patuh. Sebagaimana firman Allah SWT : “Bahkan, barang siapa aslama
(menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya
pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).
Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut
Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap
patuh pada ajaran-Nya . Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati . Menurutnya,
kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim ) yang berarti
kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian
religius menurut Abdalati, Islam berarti “ Penyerahan diri kepada kehendak
Tuhan dan ketundukkan atas Hukum-Nya”
Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius kata Islam
adalah erat dan jelas. Yakni penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan
ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan
menikmati kesucian abadi. Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata
“Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain, adalah sebagai
berikut :
1.Aslama. Artinya menyerahkan
diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT dan siap
mematuhi ajaran-Nya.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah).
4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang Aman, damai, sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah).
4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang Aman, damai, sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.
-
Arti Terminologi
Secara terminologi (istilah) dapat dikatakan, Islam adalah Agama
wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT
kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi
seluruh manusia,yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam
secara terminologi. Kesimpulan bahwa agama Islam adalah: Wahyu yang diturunkan
oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia
sepanjang masa adalah[4]
:
· Suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan makhluk lainnya.
· Bertujuan: Mendapatkan keridhaan Allah, Memberi rahmat bagi segenap alam,dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
· Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak.
· Bersumber Kitab Suci Al-Quran yang merupakan wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.
· Suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan makhluk lainnya.
· Bertujuan: Mendapatkan keridhaan Allah, Memberi rahmat bagi segenap alam,dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
· Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak.
· Bersumber Kitab Suci Al-Quran yang merupakan wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.
-
Islam Secara Syar’i
Islam secara Syar’i maksudnya makna Islam berdasarkan Hadis Nabi
Muhammad SAW.
Dalil-dalil
tentang Islam sangat banyak sekali. di antaranya adalah sebagai berikut:
1). "Sesungguhnya agama (yang
diridhai) disisi Allah hanyalah Islam." (QS Ali Imran : 19)
2). "Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS Ali Imran : 85)
2). "Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS Ali Imran : 85)
3). "Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS Al-Maidah : 3)
4). "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam." (QS Al-An'am : 125)
5)"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran : 102)
4). "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam." (QS Al-An'am : 125)
5)"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran : 102)
C.
Karakteristik Agama Islam
Istilah karakteristik dalam
kamus besar bahasa Indonesia berarti memiliki karakter atau cirri khas. Islam
dapat diartikan wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW
yang berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an. Jadi Karakteristik Agama Islam dapat
diartikan sebagai cirri yang khas atau khusus yang mempelajari tentang berbagai
ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dalam berbagai bidang agama,
muamalah(kemanusiaan), yang didalamnya termasuk ekonomi, social, politik,
pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan disiplin ilmu yang baik dan benar.
-
Islam Agama Fitroh
Fitrah dalam bahasa berarti kesucian. Jadi arti islam agama fitroh yaitu agama yang suci
sebagaimana hati nurani manusia yang suci bersih. Setiap manusia memiliki hati
nurani yang suci dan bersih, karena kesucianya tidak pernah keliru ataupun
berbohong. Setiap manusia pada hakikatnya selalu mengatakan bahwa agama islam
adalah agama yang suci dan benar. Islam melarang berbuat dosa, apalagi sampai
ingkar kepada Allah SWT maka hati nurani pun juga sama. Islam menghendaki
manusia untuk selalu bertaqwa dan beribadah maka hati nurani pun juga sama. Oleh
karena itu, semua ajaran, perintah,anjuran serta laranganNya adalah sesuai
dengan hati nurani manusia yang memang menghendaki demikian. Hal tersebut
terdapat dalam sebuah hadis yang berbunyi:
Tidak ada seorang anak kecuali dilahirkan dalam
keadaan fitrah. Kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
-
Islam
Agama Rasional
Rasional
menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya “logis” atau “masuk akal”. Sedangkan
bukti bahwa Islam itu rasional adalah
pertama, Islam agama rasional adalah Islam memiliki pembenaran “rasional” atas
aturan-aturannya bahkan aqidahnya. Yang kedua, Islam merupakan agama yang
rasional karena dasar-dasarnya dibangun atas hukum – hukum yang dapat
dibuktikan secara rasional. Aturan yang ada dalam Islam pasti mengandung
manfaat. Dengan konsep ini, ramailah orang mencari-cari apa manfaat dari suatu
perintah atau larangan Allah SWT. Secara sederhana, yang dimaksud pembenaran
“rasional” adalah ada manfaatnya. Aturan yang ada dalam Islam pasti mengandung
manfaat. Contohnya: akhir – akhir ini para ilmuwan meneliti terhadap kebenaran
yang terdapat dalam isi yang terkandung dalam Al-Quran,
dan itu memang terbukti kenenaranya.
Islam
tidak melarang kita mencari tahu apa manfaat suatu aturan. Islam juga tidak
melarang kita mencari hubungan antara suatu aturan dengan penyelesaian suatu
permasalahan. Hubungan kedua hal ini disebut sebagai hikmah. Bila disikapi
sebagai hikmah tentu menambah keimanan kita kepada Allah SWT. Hanya saja kedua
hal itu bukan alasan adanya aturan itu. Bahkan kita tidak akan pernah tahu
alasan Allah memerintahkan suatu hal kecuali Allah memberitahukan alasannya
kepada kita. Jika tidak disikapi seperti di atas cara seperti ini karena tidak semua hal bisa kita cari-cari
manfaatnya. Lebih dari manfaat yang dikemukakan seringkali subjektif dan
menebak. Misalnya pada
masa iddah perempuan. Islam menetapkan masa iddah perempuan salah
satunya adalah tiga bulan. hikmah tersebut juga bisa dirasakan dirasakan
manfaatnya (hikmah).
-
Islam
Agama Moderat
Islam
Agama Moderat. Salah satu karakteristik Islam adalah sebagai agama yang
moderat. Kata moderat bisa juga dibahasakan dengan tawazun (seimbang), karena
moderat berarti mengambil posisi tengah di antara dua hal atau sikap yang
saling berlawanan.
Manusia tidak akan bisa membuat
sebuah sistem kehidupan yang moderat, seimbang, dan tidak ekstrem. Hal itu
disebabkan:
Akal dan ilmu manusia sangat kurang, terbatas, tidak bisa
melingkupi seluruh dimensi kehidupan manusia. Maka sistem produk manusia pasti
akan tidak seimbang.Lebih memberikan perhatian pada satu bagian dengan
mengorbankan bagian yang lain.
Manusia juga mempunyai kecenderungan, tendensi, dan
keterpengaruhan dengan hal-hal yang dialami dalam hidupnya. Maka manusia pasti
akan bersifat ekstrem karena merupakan reaksi dari fenomena yang ditemui dan
dirasakannya.
Dari kenyataan di atas, dapat diyakini bahwa sistem kehidupan
manusia hanya dapat dibuat oleh Allah swt. Karena Allah swt yang mengetahui
manusia dan seluruh yang berkaitan dengannya.
“Apakah Allah Yang menciptakan
itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui?”[Al-Mulk: 14].
Moderat Berarti Adil
Allah swt. berfirman:
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat
yang wasathan (tengah-tengah) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia
dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”[Al-Baqarah:
143].
Islam adalah agama moderat karena merupakan agama terakhir dan
penutup seluruh agama. Agama-agama sebelumnya boleh berajaran ekstrem, misalnya
memerangi materialisme dengan spiritualisme, memerangi realisme dengan
idealisme. Karena agama-agama itu sangat terbatas dalam ruang dan waktunya,
tidak untuk semua orang dan sepanjang waktu.
Agar bisa diterima semua orang, agama harus bersikap adil kepada
semua. Agar bisa bersikap adil, agama harus bersikap moderat, tengah-tengah,
tidak ekstrem, dan tidak cenderung mendekat pada satu kelompok dan menjauh dari
kelompok yang lain. Kalau bersikap ekstrem, tentu hanya akan diterima sebagian
kecil orang saja. Kebanyakan orang akan menolaknya.
Abus Su’ud mengatakan, bersikap
adil dan moderat itu bagaikan posisi pusat dalam sebuah lingkaran. Posisi itu
mempunyai jarak yang sama dengan masing-masing titik di garis lingkarannya.
Kemudian hal itu dipakai untuk semua sikap manusia yang terpuji.
Moderat Berarti Istiqamah
Moderat juga bermakna istiqamah, tidak melenceng dan bengkok.
Dalam Al-Qur’an, hal itu diistilahkan dengan ash-Shiratul mustaqim (jalan yang
lurus). Para ulama mengatakan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang selalu
menjaga jarak dari terlalu minggir ke salah satu sisi. Jalan lurus bisa
dikatakan sebagai jalan yang berada di tengah-tengah.
Dengan sikap moderatnya, maka Islam adalah agama tengah-tengah di
antara ke-ekstreman agama-agama yang lain. Setiap muslim diwajibkan untuk
menjaga hal tersebut, hal itu dapat dipahami dengan perintah untuk berdoa
“tunjukanlah kami ke jalan yang lurus” dalam shalat mereka.
Moderat Berarti yang Terbaik
Ada pribahasa Arab menyebutkan “Kairul umuri Ausathuha” (hal yang
terbaik adalah yang paling tengah-tengah). Aristoteles menyebutkan, “Kebaikan
adalah sikap tengah antara dua buah keburukan.” Oleh karena itu, Ibnu Katsir
menyimpulkan bahwa “ummatan wasatha” maknanya adalah “khaira ummatin” umat
terbaik.
Moderat Berarti Aman
Berada di tengah adalah sikap yang aman. Sangat berbeda dengan
berada di pinggir dan ujung. Sikap sedang-sedang dan tidak terlalu merupakan
pilihan yang aman. Misalnya dalam berpakaian, sebaiknya memilih pakaian yang
tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Karena kalau terlalu tebal, dan
ternyata hari sangat panas maka akan merasa kepanasan. Sedangkan kalau terlalu
tipis, dan ternyata hari sangat dingin maka akan merasa kedinginan. Pilihan
yang aman adalah pakaian yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Hal
yang sama dalam memilih agama dan sistem kehidupan.
Moderat Berarti Kuat
Posisi tengah adalah pusat kekuatan. Dalam perjalanan umur, masa
yang paling kuat adalah masa pertengahan. Terlalu muda adalah masa yang masih
lemah, sedangkan terlalu tua adalah masa yang sudah lemah dan kehilangan
kekuatan. Matahari terasa paling panas adalah ketika di tengah hari, bukan di
awal hari dan bukan juga di sore hari.
Moderat Berarti Persatuan
Moderat adalah pusat persatuan dan titik pertemuan. Pinggir, pojok
dan ujung berjumlah sangat banyak dan sangat sulit bertemu dengan yang lain.
Sedangkan tengah hanya berjumlah satu, bahkan semua unsur pinggir, pojok dan
ujung bisa bertemu di tengah. Hal ini tidak hanya mungkin terjadi pada sebuah
lingkaran, tapi bisa juga berlaku untuk pemikiran, sikap, dan sebagainya.
Sisi-sisi Kemoderatan Islam
Sisi kemoderatan Islam meliputi semua bagian dalam Islam diantaranya
: akidah, ibadah, akhlak, dan hukum.
Akidah Moderat
Akidah Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti akidah khurafat
yang meyakini semua hal walaupun tidak berdalil, tidak pula seperti akidah kaum
materialis yang hanya meyakini apa yang mereka lihat dan rasakan, tidak seperti
kaum atheis yang sama sekali tidak mengakui adanya tuhan, tidak pula
seperti kaum musyrikin yang menjadikan banyak hal sebagai tuhan, bahkan
sapi, kera, dan sebagainya. Islam mengajarkan iman kepada Allah swt Yang Maha
Esa.
Tidak seperti qadariah yang mengatakan bahwa manusia menciptakan
perbuatannya sendiri, tidak pula seperti jabariyah yang mengatakan bahwa
manusia tak lain bagaikan bulu yang diombang-ambingkan angin kesana-kemari.
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk mulia, yang diberi kewajiban dan
tanggung jawab.
Tidak seperti orang Yahudi yang mencela para nabi, tidak pula
seperti Nasrani yang menuhankan mereka. Islam mengajarkan bahwa para nabi
adalah manusia biasa yang dipilih Allah
SWT untuk membawa risalah-Nya. Islam mengajarkan akidah, tapi harus berdasarkan
dalil yang kuat dan yakin.
Ibadah Moderat
Ibadah Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti Budha yang hanya
mengajarkan akhlak dan tidak mengajarkan ibadah. Islam mengajarkan ibadah yang
diatur sedemikian rupa. Ibadah dianggap tidak diterima jika mengurangi atau
melebihi aturan ini.
Misal yang bisa membuktikan hal ini adalah ibadah shalat Jumat.
Allah swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan
sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung.”[Jumah: 9-10].
Akhlak Rabbaniyah
Akhlak Islam adalah tengah-tengah, tidak seperti kaum idealis yang
mengajarkan manusia akhlak sempurna seperti para malaikat, tidak pula seperti
kaum realistis yang mengatakan bahwa manusia tak jauh berbeda dengan binatang.
Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai akal, syahwat
hewani, hidayah, fitrah untuk beriman.
Akhlak Islam tidak mengajarkan bahwa esensi manusia adalah ruh,
namun sekarang ruh tersebut terpenjara dalam sebuah jasad. Islam juga tidak
mengajarkan bahwa manusia hanyalah sebuah jasad tanpa ruh, kebahagiaannya
adalah dengan memberikan kepuasan jasad belaka. Islam mengajarkan bahwa manusia
terdiri dari jasad dan ruh, masing-masing mempunyai hak yang harus ditunaikan.
-
Islam
Agama Tauhid
Dari segi bahasa
‘mentauhidkan sesuatu’ berarti ‘menjadikan sesuatu itu esa’. Dari segi syar’i
tauhid ialah mengesakan Allah SWT. Dari hasil
pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga
sekarang, mereka menyimpulkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.
Yang
dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam
kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan
tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan
Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).
Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur
alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh
Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan,
Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:
الْØَÙ…ْدُ
Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ الَّذِÙŠ Ø®َÙ„َÙ‚َ السَّÙ…َاوَاتِ ÙˆَالْØ£َرْضَ ÙˆَجَعَÙ„َ الظُّÙ„ُÙ…َاتِ
Ùˆَالنُّورَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
Mengadakan gelap dan terang” (QS. Al An’am: 1)
Dan
perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik
mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan
beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:
ÙˆَÙ„َئِÙ†ْ
سَØ£َÙ„ْتَÙ‡ُÙ…ْ Ù…َÙ†ْ Ø®َÙ„َÙ‚َÙ‡ُÙ…ْ Ù„َÙŠَÙ‚ُولُÙ†َّ اللَّÙ‡ُ
“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir
jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan
menjawab ‘Allah’ ”.
(QS. Az Zukhruf: 87)
“Sungguh jika kamu bertanya
kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan
langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan
menjawab ‘Allah’ ”.
(QS. Al Ankabut 61)
Oleh
karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama
Abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika Abdullah diberi nama
demikian, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.
Adapun
yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya
Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur
daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Minhaj Firqotin Najiyyah)
Pertanyaan,
jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak
dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa
mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari
kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah
mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan
oleh Rasulullah dan para sahabat.
Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan
baik yang zhahir maupun batin (Al Jadid Syarh Kitab Tauhid, 17).
Dalilnya:
“Hanya Engkaulah yang Kami
sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al
Fatihah: 5)
Sedangkan
makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan
maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang
telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan
balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh,
menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya
meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain.
Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga
memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi
Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya,
mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah kami utus Rasul
untuk setiap uumat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘Sembahlah Allah saja dan
jauhilah thagut‘” (QS. An Nahl: 36)
Syaikh
DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling
ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para
rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya
jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan
agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).
Perhatikanlah,
sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan
syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki
perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka
memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah,
sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??
Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam
penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi
diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Cara bertauhid asma wa sifat Allah
ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi
diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan
tanpa tahrif,
tanpa ta’thil dan
tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).
Allah Ta’ala berfirman
yang artinya:
“Hanya milik Allah nama-nama
yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya”
(QS. Al A’raf: 180)
Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi
makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang
artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.
Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat
Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas
langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.
Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah
sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang
mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha
menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.
Adapun
penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.
Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat
makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatupun yang
menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat”
(QS. Asy Syura: 11)
Kemudian tafwidh, yaitu
tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya
sebagian orang yang berkata ‘Allah Ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘Arsy namun
kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita
serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah
mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah
mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita
berpemahaman tafwidh maka
sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Al
Qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.
Pentingnya mempelajari tauhid
Banyak
orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu
tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat
menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis
atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat,
bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah
Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana
sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak
Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah
dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat
penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan
inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:
“Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung
kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu
tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang nama-nama-Nya,
sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Syarh Ushulil Iman, 4)
-
Islam Agama Mudah
Islam
adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama
yang tidak sulit. Allah SWT menghendaki demikian kepada umat dan tidak
menghendaki kesusahan kepada mereka. Seperti dalam firman Allah SWT berikut
ini:
Allah
menurunkan Al-Qur-an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan,
kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah :
“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
“Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
Sebagai contoh tentang kemudahan
islam:
~ menurut ilmu syar’I, belajar Al-Qur’an dan As Sunnah
menurut pemahaman salaf adalah mudah
~ mentauhidkan Allah dan beribadah kepandaNya adalah
mudah
~ Melaksanakan sunnah-sunnah nabi Muhammad SAW adalah
mudah. Seperti contoh memekai jenggot, memakai pakaian diatas kaki.
~ Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang
yang khusuk dalam sholat paling lama 10 menit.
~ orang sakit wajib Sholat, jika tidak daya dalam
berdiri, bias melakukan berbaring ataupun duduk. Ini merupakan kemudahan dalam
ibadah.
~jika tidak ada air, dalam berwudhu boleh dengan cara
tayamum.
~ Haji hanya wajib sekali seumur hidup.
Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh al-Aqra’
bin Habis tentang berapa kali haji harus ditunaikan, apakah harus setiap tahun
ataukah hanya cukup sekali seumur hidup? Maka beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab:
“Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah.”[5]
“Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah.”[5]
~ Memakai jilbab mudah dan tidak berat
bagi muslimah sesuai dengan syari’at Islam. Untuk masalah jilbab silahkan lihat
kitab Jilbab Mar'ah Muslimah oleh Syaikh Imam Muhammad Nashirudin al-Albani
rahimahullah.
Allah SWT menginginkan kemudahan dan tidak
menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
“...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185]
“...Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]
“... Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama ...” [Al-Hajj: 78]
Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
“...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185]
“...Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]
“... Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama ...” [Al-Hajj: 78]
Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”[6]
Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena:
1. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pema-haman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.
2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
3. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”[6]
Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena:
1. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pema-haman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.
2. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
3. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
4. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur-an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.
-
Islam
Agama yang sempurna
Islam memiliki sifat-sifat dasar yaitu kesempurnaan, penuh nikmat,
diridhai dan sesuai dengan fitrah. Sebagai agama, sifat-sifat ini dapat
dipertanggungjawabkan dan menjadikan pengikutnya dan penganutnya tenang,
selamat dan bahagia dalam menjalani hidup. Muslim menjadi selamat karena Islam
diciptakan sebagai diin yang sempurna. Ketenangan yang dirasakan seorang muslim
karena Allah memberikan segenap rasa nikmat kepada penganut Islam, kemudian
kepada mereka yang mengamalkan Islam karena sesuai dengan fitrahnya. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum 30:30)
Keluasan
Islam
Islam merupakan agama yang sempurna berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Sebagai petunjuk/ pegangan dalam hidupnya, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik, teratur dan sejahtera, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Syumul (universalitas) merupakan salah satu karakter Islam yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan syariah dan tatanan buatan manusia, baik komunisme, kapitalisme, demokrasi maupun yang lainnya. Universalitas Islam meliputi waktu, tempat dan seluruh bidang kehidupan.“Risalah Islam mempunyai jangkauan yang sangat lebar sehingga berlaku bagi seluruh umat, dan jangkauan yang sangat dalam sehingga mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat.”[7]
Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zaman (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat).
1. Islam sebagai syumuliyatuz zaman (sepanjang masa) adalah agama masa lalu, hari ini dan sampai akhir zaman nanti. Sebagaimana Islam merupakan agama yang pernah Allah sampaikan kepada para Nabi terdahulu, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: “Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.”(QS. An Nahl 16: 36). Kemudian disempurnakan oleh Allah melalui risalah nabi Muhammad SAW sebagai kesatuan risalah dan nabi penutup. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW dilaksanakan sepanjang masa untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ 34: 28)
Islam merupakan agama yang sempurna berarti lengkap, menyeluruh dan mencakup segala hal yang diperlukan bagi panduan hidup manusia. Sebagai petunjuk/ pegangan dalam hidupnya, sehingga dapat menjalani hidup dengan baik, teratur dan sejahtera, mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Syumul (universalitas) merupakan salah satu karakter Islam yang sangat istimewa jika dibandingkan dengan syariah dan tatanan buatan manusia, baik komunisme, kapitalisme, demokrasi maupun yang lainnya. Universalitas Islam meliputi waktu, tempat dan seluruh bidang kehidupan.“Risalah Islam mempunyai jangkauan yang sangat lebar sehingga berlaku bagi seluruh umat, dan jangkauan yang sangat dalam sehingga mencakup seluruh urusan dunia dan akhirat.”[7]
Kesempurnaan Islam ini ditandai dengan syumuliyatuz zaman (sepanjang masa), syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) dan syumuliyatul makan (semua tempat).
1. Islam sebagai syumuliyatuz zaman (sepanjang masa) adalah agama masa lalu, hari ini dan sampai akhir zaman nanti. Sebagaimana Islam merupakan agama yang pernah Allah sampaikan kepada para Nabi terdahulu, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: “Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut.”(QS. An Nahl 16: 36). Kemudian disempurnakan oleh Allah melalui risalah nabi Muhammad SAW sebagai kesatuan risalah dan nabi penutup. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW dilaksanakan sepanjang masa untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ 34: 28)
2. Islam sebagai
syumuliyatul minhaj (mencakup semuanya) melingkupi beberapa aspek lengkap yang
terdapat dalam Islam itu sendiri, misalnya jihad dan da’wah (sebagai penyokong/
penguat Islam), akhlaq dan ibadah (sebagai bangunan Islam) dan aqidah (sebagai
asas Islam). Aspek-aspek ini menggambarkan kelengkapan Islam sebagai
satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah SWT. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah
hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran 3: 19)
3. Islam sebagai
syumuliyatul makan (semua tempat) karena Allah menciptakan manusia dan alam
semesta ini sebagai satu kesatuan. Pencipta alam ini hanya Allah saja. Karena
berasal dari satu pencipta, maka semua dapat dikenakan aturan dan ketentuan
kepada-Nya. Firman Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan dan pencipta alam
semesta: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan
melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin
dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh tanda-tanda bagi
kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah
2: 163-164)
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Aqidah
Aqidah Islam adalah aqidah yang lengkap dari sudut manapun. Islam mampu menjelaskan persoalan-persoalan besar kehidupan ini. Aqidah Islam mampu dengan jelas menerangkan tentang Tuhan, manusia, alam raya, kenabian, dan bahkan perjalanan akhir manusia itu sendiri.
Islam tidak hanya ditetapkan berdasarkan instink/ perasaan atau logika semata, tetapi aqidah Islam diyakini berdasarkan wahyu yang dibenarkan oleh perasaan dan logika. Iman yang baik adalah iman yang muncul dari akal yang bersinar dan hati yang bercahaya. Dengan demikian, aqidah Islam akan mengakar kuat dan menghujam dalam diri seorang muslim. Meyakini secara benar bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan meyakini dalam hati, mengucapkan secara lisan dan dibuktikan dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Ibadah
Ibadah dalam Islam menjangkau keseluruhan wujud manusia secara penuh. Seorang muslim beribadah kepada Allah dengan lisan, fisik, hati, akal, dan bahkan kekayaannya. Lisannya mampu bedzikir, berdoa dll. Fisiknya mengiringi dengan berdiri, ruku’ dan sujud, puasa dll. membantu mereka yang membutuhkan. Hatinya beribadah dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’), cinta (mahabbah) dan bertawakal kepada Allah. Ikut berbahagia atas kebahagiaan sesama, dan berbela sungkawa atas musibah sesama. Akalnya beribadah dengan berfikir dan merenungkan kebesaran dan ciptaan Allah. Hartanya diinfakkan untuk pembelanjaan yang dicintai dan diperintahkan Allah serta membawa kemaslahatan bersama.
Maha Suci Allah yang telah mengatur segala sesuatunya dengan baik dan menenteramkan. Seluruh aktivitas seorang muslim akan bernilai ibadah di mata Allah, apabila dijalankan dengan ikhlas dan diniatkan hanya untuk mengharap ridha-Nya. Sehingga kita patut mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (ibadah), karena mereka yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan limpahan pahala dan sesuatu yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat (jannah).
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Akhlaq
Akhlaq Islam memberikan sentuhan kepada seluruh sendi kehidupan manusia dengan optimal. Akhlaq Islam menjangkau ruhiyah, fisik, agama, duniawi, logika, perasaan, keberadaannya sebagai wujud individu, atau wujudnya sebagai elemen komunal (masyarakat). Akhlaq Islam meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi, seperti kewajiban memenuhi kebutuhan fisik dengan makan dan minum yang halalan thoyiban serta menjaga kesehatan, seruan agar manusia mempergunakan akalnya untuk berfikir akan keberadaan dan kekuasaan Allah, seruan agar manusia membersihkan jiwanya,“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams 91: 9-10).
Hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, seperti hubungan suami istri dengan baik, hubungan anak dan orang tua, hubungan dengan kerabat dan sanak saudara. Semuanya diajarkan dalam Islam untuk saling berkasih sayang dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, seperti seruan untuk memuliakan tamu dan etika bertamu, mengajarkan bahwa tetangga merupakan keluarga dekat, hubungan muamalah yang baik dengan saling menghormati, seruan untuk berjual beli dengan adil, dsb. Menjadikan umat manusia dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
Kesempurnaan Islam juga mengatur pada akhlaq Islam yang berkaitan dengan menyayangi binatang, tidak menyakiti dan membunuhnya tanpa alasan. Akhlaq Islam yang berkaitan dengan alam raya, sebagai obyek berfikir, merenung dan belajar,“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: 190), sebagai sarana berkarya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Lebih dari itu semua adalah akhlaq muslim kepada Allah SWT, Pencipta, dan Pemberi nikmat, dengan bertahmid, bersyukur, berharap (raja’), dan takut (khauf) terpinggirkan apalagi dijatuhi hukuman, baik di dunia maupun di akhirat.
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Hukum/ Syariah
Syariah Islam tidak hanya mengurus individu tanpa memperhatikan masyarakatnya, atau masyarakat tanpa memperhatikan individunya. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ada aturan ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Ada halal dan haram (bahaya-berguna) yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri. Ada hukum keluarga, nikah, thalaq, nafkah, persusuan, warisan, perwalian, dsb. Ada aturan bermasyarakat, seperti: jual beli, hutang-piutang, pengalihan hak, kafalah, dsb. Ada aturan tentang tindak kejahatan, minuman keras, zina, pembunuhan, dsb.
Dalam urusan negara ada aturan hubungan negara terhadap rakyatnya, loyalitas ulil amri (pemerintah) yang adil dan bijaksana, bughot (pemberontakan), hubungan antar negara, pernyataan damai atau perang, dsb. Untuk mewujudkan negara yang adil dan sejahtera sesuai dengan tatanan hidup Islam, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam kehidupan bernegara.
Kelengkapan Ajaran Islam Dalam Seluruh Aspek Kehidupan
Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang digambarkan dalam Al Qur’an adalah mencakup konsep keyakinan (aqidah), moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, hukum/ perundang-undangan (syariah).
Kesempurnaan Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan merupakan satu-satunya diin yang diridhai Allah SWT menjadikannya satu-satunya agama yang benar dan tak terkalahkan. “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At Taubah 9: 33). Beruntunglah bagi setiap manusia yang diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk dapat merasakan nikmat berislam dan menjauhkannya dari kesesatan hidup jahiliyah. Rawat dan jagalah nikmat iman dan Islam dengan tarbiyah Islamiyah serta menerapkan Islam secara kaffah, sehingga terwujud kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Aqidah
Aqidah Islam adalah aqidah yang lengkap dari sudut manapun. Islam mampu menjelaskan persoalan-persoalan besar kehidupan ini. Aqidah Islam mampu dengan jelas menerangkan tentang Tuhan, manusia, alam raya, kenabian, dan bahkan perjalanan akhir manusia itu sendiri.
Islam tidak hanya ditetapkan berdasarkan instink/ perasaan atau logika semata, tetapi aqidah Islam diyakini berdasarkan wahyu yang dibenarkan oleh perasaan dan logika. Iman yang baik adalah iman yang muncul dari akal yang bersinar dan hati yang bercahaya. Dengan demikian, aqidah Islam akan mengakar kuat dan menghujam dalam diri seorang muslim. Meyakini secara benar bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan meyakini dalam hati, mengucapkan secara lisan dan dibuktikan dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Ibadah
Ibadah dalam Islam menjangkau keseluruhan wujud manusia secara penuh. Seorang muslim beribadah kepada Allah dengan lisan, fisik, hati, akal, dan bahkan kekayaannya. Lisannya mampu bedzikir, berdoa dll. Fisiknya mengiringi dengan berdiri, ruku’ dan sujud, puasa dll. membantu mereka yang membutuhkan. Hatinya beribadah dengan rasa takut (khauf), berharap (raja’), cinta (mahabbah) dan bertawakal kepada Allah. Ikut berbahagia atas kebahagiaan sesama, dan berbela sungkawa atas musibah sesama. Akalnya beribadah dengan berfikir dan merenungkan kebesaran dan ciptaan Allah. Hartanya diinfakkan untuk pembelanjaan yang dicintai dan diperintahkan Allah serta membawa kemaslahatan bersama.
Maha Suci Allah yang telah mengatur segala sesuatunya dengan baik dan menenteramkan. Seluruh aktivitas seorang muslim akan bernilai ibadah di mata Allah, apabila dijalankan dengan ikhlas dan diniatkan hanya untuk mengharap ridha-Nya. Sehingga kita patut mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan (ibadah), karena mereka yakin bahwa Allah akan membalasnya dengan limpahan pahala dan sesuatu yang jauh lebih baik di dunia maupun di akhirat (jannah).
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Akhlaq
Akhlaq Islam memberikan sentuhan kepada seluruh sendi kehidupan manusia dengan optimal. Akhlaq Islam menjangkau ruhiyah, fisik, agama, duniawi, logika, perasaan, keberadaannya sebagai wujud individu, atau wujudnya sebagai elemen komunal (masyarakat). Akhlaq Islam meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pribadi, seperti kewajiban memenuhi kebutuhan fisik dengan makan dan minum yang halalan thoyiban serta menjaga kesehatan, seruan agar manusia mempergunakan akalnya untuk berfikir akan keberadaan dan kekuasaan Allah, seruan agar manusia membersihkan jiwanya,“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams 91: 9-10).
Hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, seperti hubungan suami istri dengan baik, hubungan anak dan orang tua, hubungan dengan kerabat dan sanak saudara. Semuanya diajarkan dalam Islam untuk saling berkasih sayang dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, seperti seruan untuk memuliakan tamu dan etika bertamu, mengajarkan bahwa tetangga merupakan keluarga dekat, hubungan muamalah yang baik dengan saling menghormati, seruan untuk berjual beli dengan adil, dsb. Menjadikan umat manusia dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis.
Kesempurnaan Islam juga mengatur pada akhlaq Islam yang berkaitan dengan menyayangi binatang, tidak menyakiti dan membunuhnya tanpa alasan. Akhlaq Islam yang berkaitan dengan alam raya, sebagai obyek berfikir, merenung dan belajar,“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: 190), sebagai sarana berkarya dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.
Lebih dari itu semua adalah akhlaq muslim kepada Allah SWT, Pencipta, dan Pemberi nikmat, dengan bertahmid, bersyukur, berharap (raja’), dan takut (khauf) terpinggirkan apalagi dijatuhi hukuman, baik di dunia maupun di akhirat.
Kelengkapan Ajaran Islam Di Bidang Hukum/ Syariah
Syariah Islam tidak hanya mengurus individu tanpa memperhatikan masyarakatnya, atau masyarakat tanpa memperhatikan individunya. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ada aturan ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Ada halal dan haram (bahaya-berguna) yang mengatur manusia dengan dirinya sendiri. Ada hukum keluarga, nikah, thalaq, nafkah, persusuan, warisan, perwalian, dsb. Ada aturan bermasyarakat, seperti: jual beli, hutang-piutang, pengalihan hak, kafalah, dsb. Ada aturan tentang tindak kejahatan, minuman keras, zina, pembunuhan, dsb.
Dalam urusan negara ada aturan hubungan negara terhadap rakyatnya, loyalitas ulil amri (pemerintah) yang adil dan bijaksana, bughot (pemberontakan), hubungan antar negara, pernyataan damai atau perang, dsb. Untuk mewujudkan negara yang adil dan sejahtera sesuai dengan tatanan hidup Islam, maka syariah Islam harus diterapkan secara kaffah dalam kehidupan bernegara.
Kelengkapan Ajaran Islam Dalam Seluruh Aspek Kehidupan
Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bukti kesempurnaannya adalah Islam mencakup seluruh peraturan dan segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu Islam sangat sesuai dijadikan sebagai pedoman hidup. Di antara kelengkapan Islam yang digambarkan dalam Al Qur’an adalah mencakup konsep keyakinan (aqidah), moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, hukum/ perundang-undangan (syariah).
Kesempurnaan Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan merupakan satu-satunya diin yang diridhai Allah SWT menjadikannya satu-satunya agama yang benar dan tak terkalahkan. “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS. At Taubah 9: 33). Beruntunglah bagi setiap manusia yang diberikan hidayah oleh Allah SWT untuk dapat merasakan nikmat berislam dan menjauhkannya dari kesesatan hidup jahiliyah. Rawat dan jagalah nikmat iman dan Islam dengan tarbiyah Islamiyah serta menerapkan Islam secara kaffah, sehingga terwujud kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
Islam sendiri memiliki syariat / peraturan hukum yang sangat sempurna
karena memiliki beberapa keunikan, diantaranya: Pertama,
bersifat manusiawi yang menunjukkan relevansi hukum Islam dengan watak manusia
serta kebutuhan dan keinginan manusia. Kemudian menghargai hak hidup manusia,
memenuhi kebutuhan rohani dan mengembangkan akal pikir manusia. Selain itu,
juga menjunjung tinggi prinsip kehidupan manusia seperti keadilan, toleransi,
permusyawaratan, saling mengasihi,saling memaafkan, persatuan, perdamaian dan
sebagainya. Kedua, bercirikan moral yang menunjukkan bahwa
hukum Islam berpijak pada kode etik tertentu mengingat Nabi Muhammad diturunkan
bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia dengan tetap berpijak pada kode
etik dalam Alqur’an. Hal ini berarti Islam menjaga kehormatan dan martabat
manusia, saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta
mendudukkan sesuatu sesuai kedudukannya. Ketiga, bercirikan universal dalam
artian seluruh aturan ada dan mengikat untuk seluruh umat manusia tanpa
terkecuali. Tidak seperti agama lain yang diturunkan untuk umat agamanya saja,
segenap peraturan yang ada dalam Islam tidak hanya untuk umat Islam saja.
Islam dan syariahnya membuka diri dan dapat berdialog dengan siapapun dan kapanpun karena Islam menjelaskan seluruh permasalahan umat. Selain itu, syariah Islam juga memliki karakteristik tersendiri diantaranya: Pertama, sempurna mengingat Islam sebagai agama terakhir telah disempurnakan oleh Alloh sehingga mencakup berbagai dimensi kehidupan baik akidah, politik kemasyarakatan, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, sosial kemasyarakatan, ekonomi dan sebagainya. Kedua, berwatak harmonis dan seimbang yakni keseimbangan yang tidak goyah, selaras dan serasi sehingga membentuk ciri khas yang unik. Karenanya ada hukum wajib sebagai bandingan haram, sunah dengan makruh dan ditengahi oleh hukum mubah. Hal lainnya adalah menempatkan kewajiban seiring dengan penuntutan hak, menggunakan harta benda tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dan sebagainya. Ketiga, dinamis yang menunjukkan bahwa syariah Islam bisa berkembang menurut kondisi pada masa itu.
Islam dan syariahnya membuka diri dan dapat berdialog dengan siapapun dan kapanpun karena Islam menjelaskan seluruh permasalahan umat. Selain itu, syariah Islam juga memliki karakteristik tersendiri diantaranya: Pertama, sempurna mengingat Islam sebagai agama terakhir telah disempurnakan oleh Alloh sehingga mencakup berbagai dimensi kehidupan baik akidah, politik kemasyarakatan, kebudayaan, pertahanan dan keamanan, sosial kemasyarakatan, ekonomi dan sebagainya. Kedua, berwatak harmonis dan seimbang yakni keseimbangan yang tidak goyah, selaras dan serasi sehingga membentuk ciri khas yang unik. Karenanya ada hukum wajib sebagai bandingan haram, sunah dengan makruh dan ditengahi oleh hukum mubah. Hal lainnya adalah menempatkan kewajiban seiring dengan penuntutan hak, menggunakan harta benda tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dan sebagainya. Ketiga, dinamis yang menunjukkan bahwa syariah Islam bisa berkembang menurut kondisi pada masa itu.
KESIMPULAN
1.
Islam merupakan wahyu
dari Allah SWT yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW yang digunakan sebagaI
pedoman hidup makhluk hidup.
2.
Islam menurut
etimologi adalah “Islam” berasal dari Bahasa Arab yaitu “Salima” yang berarti Selamat. Dari kata
itu terbentuk Aslama yang artinya menyerahkan
diri atau tunduk dan patuh.
3.
Islam menurut
terminologi adalah Agama wahyu berintikan tauhid atau
keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai
utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia,yang ajarannya meliputi
seluruh aspek kehidupan manusia.
4.
Islam syar’i adalah makna Islam berdasarkan Hadis Nabi Muhammad SAW.
5.
Karakteristik Islam
terdiri dari :
~ Islam Agama Fitroh
~ Islam Agama Mudah
~ Islam Agama Moderat
~ Islam Agama Rasional
~ Islam Agama Tauhid
~ Islam Agama yang
sempurna
PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan makalah.
Penulis banyak berharap
para pembaca yang budiman untuk
memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan
dan penulisan makalah di kesempatan berikutnya.
Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman
pada umumnya. Aamiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Dari internet:
Dari buku:
‘abduh, Syekh Muhammad. Risalah tauhid.jakarta:Bulan bintang.
Syaifulloh,M,dkk.Pendidikan
Agama Islam untuk Perguruan Tinggi.Surabaya:Grasindo.
Prof.Dr. H.
Abuddin Nata,M.A. 2004. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Rajawali Pers
Prof. Dr. Muhaimin,M.A dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan studi Islam. Jakarta: Prenada Media
Prof. Dr. Muhaimin,M.A dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan studi Islam. Jakarta: Prenada Media
Tuty, P
(2008). UI sistem online. Indonesia University .
[5] HR. Abu Dawud (no. 1721), al-Hakim
(II/293), an-Nasa-i (V/111), dan Ibnu Majah (no. 2886), lafazh ini milik Abu
Dawud.
[6] HR. Al-Bukhari
(no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari
Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[7] Ulama besar Mesir asy syahid Hasan Al Banna